Profile

  • Mitsu Iqra’
    Mitsu Iqra’
    Ane mahasisiwa angkatan 2006 Manajemen FE - UNRI. Anak ke 5 dari 5 bersaudara. Ane orangnya nggak suka basa basi dan suka diskusi.

Categories





Kya Fulan sedang bercekrama dengan 3 santrinya  di sebuah gubuk di tengah-tengah sawah milik Pondok.


 


Santri 1:


“Mengapa kita memberi nama ekonomi Islam, kyai….?”


 


Santri 2:


“…..bukan ilmu yang ada dalam ekonomi Islam saja yang menjadi masalah, tetapi nama ekonomi Islam itu sendiri untuk sementara orang menjadi masalah…..”


 


Kyai Fulan:


“…. Seperti nama orang….nama akan mempengaruhi penilaian kita pada orang yang memilikinya…… sehingga tidak aneh dalam konteks masyarakat kita nama sering menjadi masalah serius…..karena kita sering menyimpulkan sesuatu karakter orang lebih didasarkan oleh sederetan  huruf yang bernama “nama”…..


 


Santri 1:


…ya, kadang-kadang kita menilai seseorang dari namanya….orang cantik bisa jelek karena nama!….orang jelek bisa cantik karena nama!….orang yang gagah bisa menjadi feminin atau sebaliknya karena nama!….misalnya, ini misalnya lo ya,   Manohara dan Lula Maya…sebelum kita melihat langsung mereka berdua lewat infotaiment… kita mengenal dulu lewat nama, misalnya Minah dan Atun…kedua nama ini identik dengan nama orang desa….mungkin kita akan menilai bahwa Manohara—yang memiliki nama Minah— dan Lula Maya—bernama Atun— wajahnya seperti perempuan desa…..biasa-biasa saja!


 


Santri 3:


“….ehmmm….apakah ada legalisasi nama ekonomi Islam…”


 


Kyai Fulan:


“……. tidak ada peraturan atau undang-undang yang menyatakan bernama “ekonomi Islam”….sehingga bisa saja setiap orang mengatakan “ekonomi Ilahiyah”, “ekonomi syariah”, “ekonomi Qur’ani”, ataupun hanya “ekonomi” saja…... nama “ekonomi Islam” lebih populer dikarenakan masyarakat lebih mudah mengidentifikasi konsep yang ditawarkan….suatu ilmu ekonomi yang bersumberkan al Quran dan hadist……atau ekonomi Islam sebagai suatu identitas ilmu ekonomi yang berdasarkan al Quran dan al hadist..”


 


Santri 2:


….Benar ….kalau kita disuruh memilih di antara nama “ekonomi Islam”…..”ekonomi kerakyatan”…”ekonomi egaliter”…yang menunjukkan bahwa nama tersebut berdasarkan al Quran dan al hadist…...kita akan cenderung memilih nama “ekonomi Islam”…...!”


 


Santri 3:


“….sama juga ketika kita disuruh menebak siapa yang paling baik pemahaman Islam di antara orang yang bernama Muhammad…..Ronald…Ompo…Edi dan Heri… …tentunya banyak orang akan memilih Muhammad daripada Ronald, Ompo, Edi ataupun Heri ….karena ada korelasi nama sebagai simbol dan Islam sebagai “pembentuk” simbol itu ….”


 


Santri 2:


“….jadi nama ekonomi Islam tidak ada di al Quran dan al hadist…”


 


Santri 3:


“………kira-kira mengapa dinamakan ekonomi Islam, kyai”


 


Kyai Fulan:


“….ya karena....pencantum an kata “Islam” di belakang kata “ekonomi” hingga menjadi kata “ekonomi Islam” …….merupakan upaya mengakomodir konteks kekinian masyarakat yang masih memerlukan simbol……”


 


Santri 1:


“…..konteks kekinian …?”


 


Kyai Fulan:


“….Ya konteks kekinian yang memerlukan simbol,  sebagai penegas dari keberadaan sesuatu nilai/pesan!…simbol bisa dimaknai lambang yang berupa kata/benda/gerak yang memiliki nilai/pesan tertentu….simbol sebagai penegasan keberadaan nilai/pesan bahwa ekonomi Islam adalah ekonomi yang berdasarkan atas nilai-nilai Islam yang bersumberkan pada al Quran dan al hadist…”


 


Santri 3:


“…apakah simbol ini akan berlaku selamanya…”


 


Kyai Fulan:


“…simbol akan surut oleh ruang dan waktu….nah, pada suatu saat nanti….bila mana nilai/pesan dalam simbol itu tidak berlaku…. dikarenakan sudah terjadi scientifikasi seluruh teori ekonomi ke dalam Islam….”


 


Santri 2:


“…mengapa tidak Islamisasi….tetapi scientifikasi,  kyai?”


 


Kyai Fulan:


“…karena kata Islamisasi terkesan sebagai suatu penegasan bahwa ada ilmu yang Islami dan ada yang tidak islami….bahkan semua ilmu itu adalah milik Allah kan.....scietifikas i bisa lebih dimengerti sebagai proses untuk menyusun/membentuk/ membangun/ membuat ilmu tertentu sesuai dengan nilai Islam …..”


 


Santri 1:


“….kalau semua ilmu ekonomi sudah terislamisasi maka tidak ada nama ekonomi Islam…..ehmmm”


 


Kyai Fulan:


…ya mislalnya….kalau semua orang sudah mengunakan bahasa arab sebagai namanya…misalnya Muhammad Abduh…Muhammad Ghani……Muhammad Zaki….maka perbedaan nama tidak akan menisyaratkan apakah itu Islam atau tidak….karena nama “Muhammad” memastikan bahwa mereka semua Islam…dan mereka memiliki pemahaman Islam …cara berpikir seperti ini disebutkan berpikir deduktif……”


 


Santri 3:


“…ya walaupun belum tentu semua orang yang bernama “Muhammad” itu paham Islam dan beraklak baik…hehehe”


 


Kyai Fulan:


…..begini menguatnya ekonomi Islam sebagai nama….di akibatkan adanya pesan/nilai yang akan disampaikan kepada ekonomi yang tidak bersumberkan pada al Quran dan al hadist…..nah kalau semua ilmu ekonomi—misalnya di Indonesia ini— sudah mengunakan al Quran dan al hadist sebagai sumber utama pembentuk struktur keilmuwannya maka tidak ada nama “ekonomi Islam” lagi….


 


Santri 3:


…benar Kyai…..warung Padang hanya ada di luar kota Padang….nama warung Padang bernilai di luar Padang….karena di kota Padang semua warung adalah warung Padang


 


Santri 2:


….potong rambut Madura hanya di luar pulau Madura…tidak mungkin nama potong rambut Madura memiliki nilai/pesan yang sama ketika nama potong rambut Madura itu di pulau Madura….


 


Santri 1:


“Mie Jakarta juga!….roti Bandung juga!…..gudeg Yogya juga……!”


 


Kyai Fulan:


“…demikian juga dengan ekonomi Islam…nilai/pesan. nama ekonomi Islam akan berubah bilamana semua ekonomi di Negaramu sudah mengunakan nilai-nilai Islam….maka nilai/pesan yang terkandung nama ekonomi Islam tidak sama ketika dinegara mu masih ada ekonomi konvensional…seperti di beberapa Negara muslim, nama “ekonomi Islam” tidak popular …karena dalam sistem pendidikan ekonomi yang diselengarakan sudah terintegrasi dengan nilai-nilai Islam maka nama ekonomi Islam tidak menegaskan nilai yang berbeda dari ilmu yang ada….”


 


Santri 1:


“…ehmmm”


 


Kyai Fulan:


“….nama ekonomi Islam juga bisa sebagai dampak dari ilmu yang memerlukan penegasan di tengah-tengah masyarakat yang masih sekuler…..di mana nama itu menegaskan “nama ekonomi Islam” mempunyai keberadaan yang jelas sebagai sebuah ilmu yang berbeda dengan ilmu yang lain…… Penegasan sebagai ilmu yang berbeda dengan ilmu lainnya diabstraksikan dengan sebuah nama “ekonomi Islam”…”


 


Santri 3:


“…...tetapi sekarang koq…ekonomi Islam lebih identik dengan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan lembaga dan keuangan/investasi syariah kyai…”


 


Santri 2:


“…ya…sepertinya orang-orang pada sibuk di lembaga dan keuangan/investasi syariah….apa karena di sana banyak uangnya ya ..!…..daripada teori-teori ekonomi….ekonomi mikro-makro…ekonomi publik…ekonomi pembangunan  dan lainnya….”


 


Kyai Fulan:


“…ekonomi Islam identik dengan lembaga bank dan keuangan/investasi syariah karena popularitas ekonomi Islam bersamaan dengan muncul bank dan keuangan/invetasi syariah …..dimana  masyarakat langsung melihat keberadaan bank dan lembaga keuangan syariah…kenyataan ini menegaskan bahwa ekonomi Islam itu adalah bank dan lembaga keuangan syariah…..masyarakat tidak bisa melihat langsung dampak riil dari teori ekonomi Islam; mikro, makro, publik, pembangunan, dan lainnya dalam kehidupannya.….”


 


Santri 1:


…koq bisa …


 


Kyai Fulan:


“…karena  salah satu tolak ukur yang selalu diperhatikan banyak orang untuk melihat Islam dan tidak islam ilmu ekonomi adalah keberadaan larangan riba, maisir dan ghara……ketiga komponen ini identik dengan bank dan lembaga keuangan konvensional…..akhirnya orang-orang berupaya mempertegas bunga itu mengandung riba dengan cara bukan hanya mencari legitimasi keilmuwan…tetapi juga legitimasi praktek bank dan lembaga keuangan yang sesuai syariah itu seperti apa......maka tidak salah kalau ilmu bank dan keuangan/investasi syariah laris…orang tida hanya belajar di dalam negeri…tetapi juga di luar negeri ….”


 


Santri 1.2. 3:


……………….


 


Wallahu alam

(read more ...)





OLEH : Mitsu Iqra�     








Awal Ramadhan..



Sahur.., sahur..!. Sahur.., sahur..!.

Ibu bangun ayo bangun, cepat masak untuk sahur..

Bapak bangun ayo bangun, Bantu ibu masak sahur..

Sayur asem, goreng tempe, pake bacem juga oke..



Kelotek tung teng.., kelotek tung teng

Kelotek tung teng.., kelotek tung teng



Terdengar nyanyian pengganggu tidur dari remaja mushola Al – falah di iringi bunyi alat musik semerawut yang sengaja di bikin ribut biar penduduk desa pada semaput alias bangun bin melek!.

Di setiap bulan Ramadahan, membangunkan orang sahur memang sudah jadi langganan ongge dan kawan – kawan. Tanpa mereka, bisa – bisa penduduk desa Rimbut bisa pada kesiangan alias gak sempet sahur!. Dengan modal ciut, nyanyian ribut dan alat musik yang semerawut pendududuk desa Rimbut memberi julukan "Orchestra Semaput" kepada ongge dan kawan – kawanya yang berwajah imut kayak semut tapi sering ke jedut!. Klop deh pokoknya.

Tapi jangan salah, walaupun dengan titel serba UT di atas, kehadiran orchestra semaput sangat din anti – nantikan penduduk desa rimbut terutama oleh ibu – ibu yang susah bangun pagi.







***







Malam ke dua belas Ramadhan..

Walaupun jama�ah shalat tarawih di mushola Al – falah semakin sepi, Orchestra Semaput masih tetap semangat membikin ribut. Soalnya, emang nggak ada hubungannya antara jama�ah sholat tarawih yang semakin sepi, dengan musik mereka yang ribut. Seperti biasanya. Setelah mereka bikin ribut, satu persatu rumah penduduk desa Rimbut pun menyala. Pertanda mereka telah bangun dari tidurnya.

" Hei.., coba liat rumah pak Toyek!", seru Sipai sambil menunjuk sebuah rumah yang lampunya belum menyala.

Ongge, Peyak, Kentung dan Umit pun spontan langsung mengarahkan pandanganya kea arah mana tangan Sipai menunjuk. Musik ribut pun berhenti.

" Eh iya, kok tumben ya!. Biasanya kalo kita udah bikin ribut pak Toyek pasti bangun!", kata Kentung menimpali.

" Coba kita lihat!", ajak Ongge. Lalu merekapun mendatangi rumah pak Toyek. Ketika sudah sampai di depan pintu rumah pak Toyek merekapun membuat koor salam.

" Assalamu�alaikum!", ucap mereka serempak. Namun tidak ada sahutan dari dalam rumah. Merekapun mengulanginya beberapa kali, tetap tidak ada jawaban!.

" Wah, kalo kayak gini caranya kita harus memainkan musik super ribut nih, biar pak Toyek bangun!", kata Ongge berapi api.

Oke deh, lanjuuuut..!!!".



Sahur.., sahur..!. Sahur.., sahur..!.

Ibu bangun ayo bangun, cepat masak untuk sahur..

Bapak bangun ayo bangun, bantu ibu masak sahur..

Sayur asem, goreng tempe, pake bacem juga oke..



Kelotek tung teng.., kelotek tung teng

Kelotek tung teng.., kelotek tung teng



Namun setelah berulang ulang mereka bikin musik Super Ribut, lampu rumah pak Toyek tetap tidak menyala. Akhirnya merekapun berhenti karena kelelahan.

" Wah, jangan – jangan terjadi sesuatu nih dengan pak Toyek!", kata Umit menduga – duga.

" Iya, bagaimana kalau kita laporkan hal ini sama pak lurah?", usul Sipai.

" Oke, kita ke sana sekarang!", kata Ongge mantap.

Setelah sampai di rumah pak lurah, merekapun langsung melaporkan hal itu.

" Pak lurah, gawat!", kata Ongge dengan wajah cemas.

" Gawat kenapa ngge?", tanya pak lurah penasaran.

" Begini pak, tadikan kami udah bikin ribut nih keliling kampung. Dan seperti biasanya, kalo kami uda bikin ribut begitu, para penduduk langsung bangun dan lampu – lampu rumah merekapun di nyalain. Tapi tadi kami liat, lampu di rumah pak toyek gak menyala.Terus kami datangin rumahnya, tapi setelah kami ngucapin salam berulang –ulang dengan suara yang keras lampu rumah pak toyek tetap gak nyala!. Nah, terus kami mainkan lagi musik super ribut, tapi lampu rumah pak toyek gak nyala – nyala juga!".

" Iya pak, kami menduga terjadi apa – apa dengan pak toyek. Makanya kami ngelapor sama pak lurah!", kata umit meyakinkan.

" Wah, bapak salut sama kalian semua. Ternyata kalian punya jiwa sosial yang tinggi!"� puji pak lurah. Mendengar pujian itu, ongge, peyak, kentung, sipai dan umitpun hidungya mekar kayak terigu cakra kembar!.

" Tapi kalian tau gak, kenapa lampu di rumah pak toyek gak nyala – nyala?", tanya pak lurah

" Emang kenapa pak?", tanya ongge mewakili rasa penasaran eman – temannya.

" Gini lho ngge. Tadi siang pak toyek tu pamitan sama bapak, katanya dia mau pulang ke rumah orang tuanya. Makannya walaupun kalian udah ngeluarin musik super ribut rumahnya tetap gelap!"

Lho kok???.

" Psss…!!!", kontan terigu cakra kembar yang sudah sempat mekar tadipun kempes lagi.!!!



***



Akhir Ramadhan…

Seperti biasanya, sebelum membuat ribut, para personil orchestra semaput berkumpul di mushola Al – falah. Ongge si pemukul kentong plus ketua orchestra semaput, peyak si penggetok kaleng, kentung si penabuh galon dan sipai si penggebuk wajan sudah berkumpul sejak jam dua tadi. Wajah mereka tampak kesal!. Bagaimana tidak kesal?. Sudah jam dua lewat lima belas menit begini, umit si penokok periuk belum datang – datang juga. Padahal biasanya, jam dua lewat satu menit mereka sudah mulai berkeliling kampung!. Ongge yang di tunjuk sebagai ketua orchestra semaput tampak gelisah, dari tadi dia sibuk mondar - mandir kayak setrikaan. Sementara itu, peyak yang juga gelisah mengatasi kegelisahannya dengan menarik – narik sarungnya yang kedodoran.

" Tung, kemana sih tu anak?. Jam segini kok belum datang – datang juga?", tanya peyak kepada kentung sambil menarik sarungnya yang barusan kedodoran lagi. Kentung yang sedang berusaha keras untuk membuat hidungnya mancung dengan memencet – mencet hidungnya yang pesek pun menjawab.

" Mana ane tempe, tanya aja sama toge, barang kali tahu!".

" Ah.., ente tung. Di Tanya bener – bener jawabnya malah lauk - pauk!", kata peyak kesal.

" Emang uda gak sabar tu si kentung pengen sahur!", celetuk sipai. "Coba ente tanya sama ketua!", kata sipai lagi.

Peyak pun menghampiri ongge yang masih kayak setrikaan!

" Ngge, peyak kemana?. Tu anak kenapa belum nongol – nongol juga?", tanya peyak kepada kongge.

" Ane juga gak tau yak!. Biasanya sih tuh anak gak pernah telat!", jawab ongge tanpa menghentikan aktifitas setrikaannya itu.

" Uda hampir setengah tiga nih!. Ntar kita telat ngebangunin penduduk!", kata kentung mengingatkan.

" Jangan – jangan dia masih molor lagi!", celetuk sipai.

" Bener juga ente pai, jangan – jangan dia emang masih molor!", kata kentung menimpali.

" Wah, kebangetan bener tuh anak!. Kita uda nunggu sampe karatan gini, dia malah enak – enakan molor di rumah!", kata peyak geram.

Ongge yang dari tadi masih mondar – mandir pun menghentikan aktifitas setrikaannya itu. Lalu dia pun berkata,

" Kalian ni pada ngomong apa sih?. Jangan su�udzon gitu sama sodara!. Iget, sekarang ni bulan Ramadhan. Emosi kudu di jaga!".

" Bukannya gitu ngge, kita ni uda nungguin dia dari tadi!. Tapi sampe karatan gini tuh anak belum nongol – nongol juga!", kata peyak mewakili teman – temannya melakukan pembelaan diri.

" Iya, ane ngerti!. Kalian pasti merasa terzholimi dengan keterlambatan dia. Tapi biar bagaimanapun juga, dia tetap sodara kita!. Kita harus tetap berhusnudzon sama dia!", kata ongge mencoba memberi pengertian kepada treman – temannya.

" Terus kita mesti gimana?", Tanya sipai.

" Gimana kalo kita datang ke rumah umit?. Kita buktiin semua yang kalian tuduhkan sama dia tadi!", usul ongge.

" Yup la, ane setuju!", kata kentung semangat.

" Ane juga setuju!", kata sipai mantap.

" Ente gimana yak?", tanya ongge kepada peyak yang dari tadi belum memberikan tanggapan.

" Oke, siapa takut!", jawab peyak yakin.

Setelah semua sepakat, merekapun memutuskan untuk langsung pergi ke rumah umit. Akan tetapi baru saja tujuh langkah melangkah, si umit sudah nongol di depan mereka.

" Assalamu�alaikum!", sapa umit ramah.

" Wa�alaikummus salam!", jawab peyak, kentung dan sipai dengan nada kesal. Kecuali ongge yang menjawab dengan lembut. Maklum deh ketua, mesti bijaksana dalam segala suasana!.

" Sory ya, ane telat!", kata umit dengan senyuman termanisnya.

" Ente sekate – kate!. Orang udah nunggu sampe karatan gini!. Ente dari mana aja sih?", semprot peyak.

" Iya. Sory.., sory.., ane emang salah!", kata umit masih dengan senyuman termanisnya. Walaupun teman – temannya pada cemberut dengan rambut kusut dan jidat berkerut plus omelan yang ceprat – ceprut, si umit tetap kiut dengan senyumannya yang imut. Inilah kelebihan si umit. Kalo soal senyum – senyum, emang dia jagonya!."Gara – gara ini ni!", kata umit lagi sambil menunjukkan periuknya yang gosong.

" Maksud ente apa mit?", tanya ongge penasaran.

" Gini ngge, ane tu telat karna periuk ini di pake sama ibu ane buat masak nasi. Soalnya periuk yang satu lagi bocor karna jatuh di senggol sama si burik. Jadi ane mesti nungguin ibu ane sampe selesai masak. Makannya lama. Kalo gak percaya pegang aja ni periuk, masih anget!", kata umit sambil menyodorkan periuknya. Peyak, kentung dan sipai pun segera memegang periuk itu. Bahkan karena penasaran ongge yang sebenarnya sudah percaya dengan perkataan umit tadi ikut memegang periuk itu.

" Iya, masih anget!", kata kentung membenarkan perkataan umit tadi. Sementara ongge, peyak dan sipai tidak berkomentar apa – apa, mereka hanya menganggukkan kepala.

" Nah, sekarang semuanyakan udah jelas. Ternyata apa yang kalian tuduhkan kepada umit tadi nggak bener. Sekarang cepat minta maaf sama umit!", suruh ongge kepada peyak kentung dan sipai. Peyak mendahului mnyalami tangan umit.

" Maafin ane ya mit, ane uda nuduh yang nggak – nggak!", kata peyak menyesal. Lalu peyakpun merangkul sobat karibnya itu.

" Maafin ane juga ya yak, uda bikin kalian kesel!", kata umit. Kentung dan sipaipun melakukan hal yang sama. Mereka saling bersalaman, mengucap maaf dan berpelukan..!!!. Mirip teletubies!.

" Ya uda, ane harap ini terakhir kalinya kita kayak gini. Lain kali, kita harus selalu ber husnudzon sama saudara kita. Nah sekarang, ayo kita bikin ribut lagi!", kata ongge semangat.

" Ocre bos!", jawab Peyak, Kentung , Sipai dan Umit serentak.



Sahur.., sahur..!. Sahur.., sahur..!.

Ibu bangun ayo bangun, cepat masak untuk sahur..

Bapak bangun ayo bangun, Bantu ibu masak sahur..

Sayur asem, goreng tempe, pake bacem juga oke..



Kelotek tung teng.., kelotek tung teng

Kelotek tung teng.., kelotek tung teng



***



Ramadhan pun pergi..

Malam ini, para personil orchestra semaput berkumpul di mushola Al - falah. Bukan untuk membangunkan orang sahur, akan tetapi untuk merayakan kemenangan atas perjuangan selama di bulan Ramadhan.

" Yaah, ramadhan telah pergi nih. Pensiun dong kita!", kata kentung lesu.

" Iya tung, ane sedih ni!", kata sipai.

" Uda deh jangan sedih gitu, kan masih ada ramadhan besok!", kata ongge mencoba menghibur.

" Itukan kalo kita masih hidup, kalo umur kita cuma sampe besok pagi gimana?",tanya Umit.

" Yaa.., kita berdo�a aja deh!. Supaya Allah ngasih kita umur yang panjang. Biar kita masih bisa bikin ribut lagi!!", jawab Ongge mantap. Lalu merekapun saling berangkulan dan berdoa..



Ya Allah, panjangkanlah umur kami, dan pertemukanlah lagi kami dengan bulan suci – MU, bulan ramadhan.., bulan yang penuh berkah dan ampunan… (Amin.).





***



SELESAI

(read more ...)